POHUWATO (GOL) — Warga di kawasan Pantai Pohon Cinta, Desa Palopo, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, mengeluhkan macetnya pasokan air bersih dalam beberapa waktu terakhir. Usut punya usut, tersendatnya aliran air tersebut diduga kuat akibat ulah salah satu penginapan setempat yang nekat menyedot langsung dari pipa induk menggunakan mesin pompa jenis Alkon, Jumat (05/06/2026).
Praktik ilegal ini terbongkar setelah sebuah video pendek berdurasi singkat dibagikan di grup whatsapp. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas satu unit mesin Alkon terpasang dan beroperasi langsung pada jalur pipa utama milik Perumdam Tirta Moolango.
“Pak Dir (Direktur Perumdam), ada pembuktian. Dia tarik dengan Alkon ini dari pipa induk. Kenapa harus begini, Pak Dir? Kasihan masyarakat lainnya. Coba dulu diperhatikan, ini ditarik dengan Alkon dari pipa induk begini,” ujar suara pria dalam rekaman video tersebut sembari meminta ketegasan pihak terkait.
Saat dikonfirmasi awak media, Bani Imran Kaluku, sosok warga yang merekam sekaligus mematikan langsung mesin pompa tersebut, membenarkan kejadian itu. Ia bergerak melakukan peninjauan ke lokasi setelah menerima rentetan keluhan dari masyarakat sekitar yang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Air di sini sudah lama macet, biasanya nanti tengah malam baru lancar. Tadi ada masyarakat yang mengeluh ke saya, ternyata ada Alkon. Langsung saya tinjau sendiri dan ternyata benar. Bahkan masyarakat itu sendiri yang mematikan sementara saat (mesin) hidup di sana. Saya langsung matikan total Alkon yang mengambil air langsung dari induk pipa PDAM,” kata Bani.
Bani menambahkan, berdasarkan penuturan warga di sekitar lokasi kejadian, praktik penyedotan air menggunakan alat berat tersebut disinyalir sudah berlangsung cukup lama jika melihat kondisi di lapangan.
Menanggapi polemik tersebut, Direktur Perumdam Tirta Moolango Kabupaten Pohuwato, Kaharudin Rahim, langsung memberikan klarifikasi. Pihaknya mengaku telah memanggil dan melayangkan surat teguran keras kepada pihak agen penginapan yang bersangkutan.
Meski memicu kemacetan air bagi warga lain, Kaharudin membantah adanya pencurian air atau los meteran. Ia menegaskan bahwa instalasi pipa yang ditarik menggunakan mesin Alkon tersebut tetap melewati alat ukur resmi.
“Kalau di situ kan dia bukan tidak melalui meteran. Tetap dia melalui meteran. Itu (Alkon) cuma mempercepat saja, pemakaiannya macam kayak orang pakai penampungan begitu karena air tidak ada. Jaringan pipanya pakai meteran, cuma mereka sodor-sodor (sedot) semua supaya mempercepat pemasangan,” jelas Kaharudin.
Kaharudin berdalih, aksi penyedotan itu baru dilakukan oleh pihak agen pada malam hari sebelumnya karena proses serah terima administrasi jaringan pipa domestik (DMS) belum sepenuhnya rampung.
Kendati mengonfirmasi bahwa air tersebut tetap berbayar dan tercatat di meteran, Perumdam Tirta Moolango tetap mengambil tindakan tegas berupa pembongkaran paksa karena metode tersebut telah merugikan hak-hak pelanggan domestik lainnya di kawasan Pohon Cinta.
“Iya (mengganggu yang lain), makanya saya sudah panggil, sudah telepon, dan saya tegaskan tidak boleh bikin begitu lagi. Saya sudah tugaskan petugas di lapangan, Pak Ian sudah saya perintahkan untuk membongkar alat tersebut. Jadi sekarang sudah tidak ada lagi,” tegasnya.
Saat disinggung mengenai kemungkinan adanya sanksi hukum atau denda administratif yang lebih berat bagi pihak penginapan, Kaharudin menyatakan bahwa sejauh ini pihaknya masih mengedepankan langkah persuasif.
“Untuk sementara ini saya belum bisa memberikan sanksi (lebih jauh), karena yang bersangkutan juga merupakan bagian dari pelanggan resmi PDAM,” pungkasnya.
(GOL – 03)




































