Penulis : ISMAIL ABAS
BERBAGAI Apresiasi muncul dari berbagai tokoh di daerah ini terhadap figur Syarif Mbuinga pribadi maupun performance pemerintahannya selama menjadi Bupati dua periode di Kabupaten Pohuwato. Apalagi dalam usianya yang masih terbilang muda, namun telah memperlihatkan talenta kepemimpinan yang sangat elegan dan terterima di semua kalangan menjadi bahan perbincangan yang sangat menarik di tengah masyarakat.
Belum lagi latar belakang kehidupannya yang berasal dari keluarga yang sederhana. Di masa kecil pernah menjajakan Ice Cream ke sekolah-sekolah, pernah mengadu nasib di Jakarta sebagai sales, pernah menjalani profesi sebagai penambang emas sekembalinya dari Jakarta menjadi sisi lain, betapa Syarif Mbuinga merupakan sosok pemimpin yang gigih dalam menghadapi berbagai tantangan.
Tidak berlebihan jika kita menyebut bahwa Syarif Mbuinga merupakan sosok pemimpin yang layak dijadikan sumber referensi dan inspirasi kaum muda saat ini yang lebih banyak menonjolkan ke’aku-an dari pada kemampuan dan telah kehilangan daya juang dalam meraih cita-cita masa depan.
Selain itu Syarif Mbuinga meskipun pernah hidup merantau di kota metropolitan, namun ketika pulang ke Gorontalo Ia tidak “mentang-mentang” menunjukkan diri sebagai representasi kaum muda modern sehingga tidak “gengsi” melakoni tradisi asli Gorontalo baik dalam bertutur dengan bahasa Lo Hulandhalo misalnya, maupun dalam melakoni kehidupan masyarakat kebanyakan guna menunjukkan dedikasi dan tanggung jawabnya sebagai Bapak rumah tangga, yang harus mandiri menghidupi isteri dan anaknya.
Hal lainnya yang juga menarik dari seorang Syarif Mbuinga adalah, dalam sejarah perjalanan karirnya sebagai politisi muda, baik saat menjadi Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, kemudian menjadi Ketua DPRD Kab. Pohuwato dua periode, hingga menjabat Bupati Pohuwato dua periode, Syarif Mbuinga tidak pernah terlibat perseteruan politik dengan lawan-lawan politiknya secara terbuka.
Justru sebaliknya, Syarif Mbuinga telah menjadi “model” pemimpin muda Gorontalo yang santun dan moderat. Hal ini mengindikasikan pula, betapa Syarif Mbuinga merupakan sosok politisi yang santun, menjunjung tinggi etika dan moral, demokratis serta memiliki tingkat pengendalian diri yang sangat tinggi.
Jika merefleksi kepemimpinannya, setelah dilantik dan diambil sumpah sebagai Bupati Pohuwato tanggal 22 Sepember 2010 hingga 2020, tanpa bermaksud mengkultuskan seorang Syarif, dapat ditarik kesimpulan, betapa, suami dari Ny. Jeanette MB Kilapong ini, telah mampu memenuhi kriteria dan prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik, yakni berorientasi pada Profesionalitas, Akuntabilitas, Transparansi, Pelayanan Prima, Demokratis, Efisien, Efektif dan menjunjung tinggi supremasi hukum.
Paradigma baru kepemimpinan juga teraktualisasi secara konkrit, yakni selama kepemimpinanya mampu membangun budaya organisasi kepemerintahan serta mewujudkan perubahan secara bertahap. Dalam dua periode kepemimpinannya sebagai Bupati Pohuwato, Syarif Mbuinga mampu mengambil peran sebagai Designer – transformasi (perancang), sebagai Teacher – Coaches, Guides facilitator dan tampil sebagai Steward terhadap orang yang dipimpin dan organisasi yang dipimpinnya.
Model Kepemimpinan yang dimainkan seorang Syarif Mbuinga selama menjabat merupakan ciri khas dari seorang pemimpin yang menuai sukses yang dikenal dengan sebutan LLM yakni Looking Out, yakni senantiasa belajar berbagai teori tentang kepemimpinan, rajin membaca biografi dan autobiografi, berdiskusi dan bertukar pikiran dengan seseorang yang dianggap kredibel, Looking In, yakni Menyadari, mengenali dan mempelajari kemampuan dan pengalaman diri sendiri (introspeksi) dan Moving On yaitu melakukan perubahan untuk mencapai kualitas kepemimpinan yang lebih baik.
Keseluruhan konsep model dan ciri khas itu, merupakan akumulasi dari sebuah proses yang panjang, yang terbangun dari pengaruh kehidupan bersama keluarga, teman karib, guru dan lingkungan sejak dari masa kecil, masa sekolah, masa remaja dan beranjak pada kehidupan yang lebih dewasa setelah menemukan eksistensi dan jati diri sebagai manusia yang utuh. Wallahualam Bissawab (**)




































