Oleh : Ismail Abas, S.HI
(Orang Libuo, Tinggal di Paguat)
Perjalanan hidup seorang pemimpin dalam strata dan tingkatan apapun selalu menarik untuk disimak. Banyak kisah sedih maupun gembira, suka maupun duka dan romantika perjalanan kehidupan para pemimpin yang tidak jarang menjadi referensi bagi seseorang atau generasi berikutnya untuk meraih sukses.
Tidak terkecuali sosok Syarif Mbuinga yang pernah menjabat Bupati Kabupaten Pohuwato dua periode, yang sudah dapat dipastikan memiliki kisah kenangan bersama keluarga, guru dan sahabat.
Sebagai anak bungsu dari 12 bersaudara, Syarif yang lahir di Marisa, 16 Juni 1973, sudah hal yang lumrah, jika Syarif termasuk anak kesayangan kedua orang tuanya. Menurut penuturan beberapa kalangan, Syarif kecil termasuk yang selalu dimanja, beroleh perhatian yang lebih. Menariknya, meski dimanja dan mendapat perhatian lebih, namun Syarif kecil tetap tumbuh sebagai anak yang mandiri.
Setiap hari Ia mengurus sendiri keperluan sekolahnya, mulai dari urusan pakaian seragam, sepatu hingga buku tulis dan buku pelajaran, semuanya dipersiapkannya sendiri tanpa merepotkan orang tua maupun kakak-kakanya.
Semasa kecil Syarif termasuk anak yang lincah, cekatan dan periang. Ia mudah akrab dengan teman-teman sebayanya. Tidak jarang pada sore hari setelah istrahat siang, ia melakoni hobinya main sepak bola bersama teman-teman sebayanya.
Salah seorang guru yang mungkin tidak akan pernah dilupakan oleh seorang Syarif selama menempuh pendidikan di SMA I Marisa adalah Abdullah Mile. Sang guru inilah yang pernah menghukum dan menjewer Syarif Mbuinga yang ketika itu sering terlambat masuk sekolah. Mantan Gurunya itu, pernah menjabat Camat Buntulia dan Camat Paguat.
Konon dalam ceritanya, Abdullah Mile pertama kali mengenal seorang siswa yang bernama Syarif Mbuinga saat ia mengajar Matematika di kelas II di SMA Negeri 1 Marisa. Meski asli Pohuwato, namun saat itu Syarif tercatat sebagai siswa pindahan dari SMA Negeri 3 Kota Gorontalo.
Ketika itu Abdullah Mile melihat dan berdasarkan laporan dari beberapa guru, Syarif sering bahkan tiap hari terlambat masuk sekolah. Untuk memberikan efek jera pada siswa ini, Selaku guru Ia suatu hari menjewer dengan mencubit bagian perut Syarif. Anehnya, meski mengerang kesakitan, Syarif tetap tersenyum.
Namun rupanya, hukuman itu tidak membuat Syarif Jera, esok dan esoknya lagi, ia masih saja terlambat datang ke sekolah. Penasaran dengan hal itu, Abdullah Mile ketika itu mulai menelusuri penyebab mengapa Syarif sering terlambat. Tidak berapa lama kemudian, Abdullah Mile mendapat penjelasan langsung dari beberapa rekannya sesama Guru di SMA Marisa bahwa Syarif sering datang terlambat karena pagi-pagi masih harus membantu kedua orang tuanya di rumah dan mengantar jualan ES ke sekolah- sekolah. Mendengar khabar itu, Abdullah Mile merasa Trenyuh dan seakan menyesal telah menghukum Syarif.
Dalam kalbunya paling dalam, sang guru justru sangat bangga dan simpatik dengan seorang Syarif, meski remaja gagah dan memiliki bakat, namun Syarif tidak malu-malu untuk membantu kedua orang tuanya, dan meski melakoni pekerjaan yang berat itu, prestasinya di sekolah tetap meningkat dari tahun ke tahun.
Seiring perjalanan waktu, sebagai seorang guru yang telah menyaksikan berbagai fenomena Syarif ketika itu, sang guru memiliki firasat bahwa Syarif kelak akan menjadi seorang pemimpin. Dalam hatinya ketika itu berbisik “anak ini bakal menjadi pemimpin masa depan ”. Hingga beberapa tahun kemudian terbukti saat Syarif menjadi Ketua DPRD Kab. Pohuwato tahun 2004 hingga menjadi Bupati Pohuwato dua periode.
Bagaimana tidak, saat masih SMA itu, kemana Syarif berjalan dan pergi, teman-temannya pasti ada yang mengikuti dari belakang, demikian juga, saat kelasnya tidak ada guru misalnya, lagi-lagi Syarif yang jadi tumpuan harapan teman-temannya untuk menyusul Guru di dewan guru dan bahkan melaporkannya kepada Kepala Sekolah.
Malah dulu Syarif pernah diminta Kepala Sekolah menyusul ke rumah sang guru karena tidak masuk mengajar. Tidak hanya itu saja, dari gaya bicaranya yang terstruktur rapi, memiliki intonasi yang enak didengar dengan argument-argumen yang berkualitas kian mengukuhkan betapa aura kepemimpinan Syarif memang sudah nampak semenjak SMA. Wallahu’alam bishawaf.. (**)
(Semoga tulisan ini akan menjadi setetes air yang jatuh dari paruh elang yang sedang terbang diatas samudera yang luas).




































