Gorontaloonline.id – Pasca pemilu 14 februari kemarin, tensi politik di kabupaten pohuwato naik drastis hingga golkar menyatakan sikap menarik diri dari koalisi pemenangan Saipul A. Mbuinga dan Suharsi Igirisa.
Penarikan dukungan ini begitu dekat dengan perayaan ulang tahun bumi panua yang ke 21 jatuh pada tanggal 25 februari.
Dengan tensi politik tersebut, bisa jadi sikap partai golkar akan nampak jelas pada rapat paripurna ulang tahun dan bisa jadi, hari bahagia bumi panua akan di tandai dengan berdamainya para politisi pasca pemilu.
Jika Golkar tak menghadiri rapat paripurna tersebut, maka secara otomatis pimpinan rapat bukanlah ketua DPRD dan 10 kursi DPRD akan terlihat kosong, belum lagi di tambah oleh beberapa petahana yang gagal mempertahankan kursi.
Dalam politik yang pahami oleh penulis, bahwa ketidakhadiran adalah bentuk nyata dari sikap partai kepada sebuah kebijakan.
Pasca pemilu,Baik anggota DPRD yang kembali pertahankan kursi dan yang gagal,mereka butuh healing dari lelahnya menghadapi pertarungan politik di pemilu.
Jika kondisi pada rapat paripurna terbalik dari apa yang digambarkan diatas, maka benar kalimat dibawah ini di pegang oleh para politisi.
“Memaafkan Ia tapi melupakan tidak” sepenggal bahawa yang biasa terdengar pasca pemilu.
Selamat Ulang Tahun ke 21 Bumi Panua
Penulis Jundi Dai
Ketua Aliansi Jurnalis Pohuwato 2020-2023




































