POHUWATO (GOL) – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat Gorontalo (AMPRG) diduga mendapat terror yang ditengarai berasal dari sejumlah oknum anggota Polresta Gorontalo. Hal itu, setelah sebelumnya para mahasiswa ini sempat menggelar aksi ujuk rasa di Polres Gorontalo, atas dugaan kasus pungutan liar (PungLi) yang diduga dilakukan oleh oknum kepala desa di Kecamatan Pulubala, senin (13/05/24).
Hal ini mendapatkan kecaman dari berbagai pihak khususnya Komisariat Persatuan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) yang ada di Gorontalo.
Faisal S. Moha selaku Pjs Komisariat Permahi Universitas NU Gorontalo mengecam tindakan yang tidak patut diduga dilakukan oleh oknum kepolisian yakni aksi terror terhadap mahasiswa AMPRG.
“Jika kita mengacu pada aturan kepolisian, bahwa polisi seharusnya mengayomi dan melindungi bukan mengintimidasi massa aksi melalui teror akun sosial media patut kita ingat bahwa kemerdekaan mengemukakan pendapat tertuang pada UUD 1945 Pasal 28 dan secara hierarki perundang – undangan itu adalah hukum yang tertinggi, mengacu dari asas lex superiori derogat legi inferiori, namun sangat miris ada tindakan seperti ini kalau baper mending berhenti aja jadi anggota polri,” ungkap Faisal.
Senada dengan itu, Deril Hippi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Gorontalo yang merupakan kader PERMAHI Gorontalo mengutuk tindakan tercela yang diduga oknum kepolisian polres limboto yang secara pandangan hukum ada dugaan niatan jahat (mens rea) oleh oknum tersebut.
“Kami menduga ini sudah ada niatan jahat, kami udah cocokkan beberapa bukti, akun fb merupakan milik yang diduga anggota kepolisian dan orang pada foto tersebut hadir saat aksi, memang terjadi bentrok tapi yang patut dipertanyakan kok ada pertanyaan pada chat fb ‘dimana dan kapan baliknya’ sedangkan si korban ini tidak mengenal dan tidak ada hubungan apapun dengan terduga,” ucap Deril.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Aqila Arianto Kadir Pjs. Komisariat PERMAHI Universitas Gorontalo. Ia menambahkan jika ada yang menyentuh mahasiswa fakultas hukum apalagi dalam ruang lingkup permahi kami siap turun dengan aksi solidaritas di Polres Limboto.
“Niatan dugaan teror ini sudah diluar situasi aksi kalau sebelum aksi kami anggap wajar saja karena kami udah mengalami hal beginian, kami tekankan jika berani menyentuh kader kami, kami tidak akan segan turun untuk mencopot anggota kepolisian tersebut sekaligus dengan kapolres, Jika diplomasi tidak digubris maka demonstrasi adalah solusi mendidik penguasa yang tidak etis,” tutup Arianto. (GOL – 03)




































