POHUWATO (GOL) – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang menggunakan alat berat di wilayah Popayato, Kabupaten Pohuwato, kembali memicu kekhawatiran serius akibat dampaknya yang semakin merusak lingkungan, Sabtu (15/11/2025).
Kegiatan ilegal yang sebelumnya marak di Km 18 kini diketahui telah merambah hingga Km 16. Lebih memprihatinkan lagi, di lokasi baru tersebut para pelaku PETI didapati mengeruk badan Sungai Popayato untuk mencari kandungan emas.
Padahal hanya berjarak beberapa kilometer dari titik aktivitas PETI itu, tepatnya di Km 13, terdapat jaringan pipa Perumdam Tirta Moolango serta instalasi Pamsimas Desa Marisa yang menyuplai air bersih bagi ribuan warga di Kecamatan Popayato dan Popayato Timur.
Hasil pemantauan pada Rabu, 12 November 2025, memperlihatkan dua unit excavator beroperasi di Km 16. Kehadiran alat berat itu diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas air Sungai Popayato, yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan air bersih warga setempat.
Dampak kerusakan pun mulai terasa. Air sungai yang tadinya jernih kini berubah keruh pekat oleh lumpur, diduga berasal dari aktivitas PETI di Km 18 dan Km 16. Keadaan ini membuat masyarakat resah, termasuk seorang warga Popayato Timur, OY.
OY mengungkapkan rasa kecewanya terhadap aktivitas tambang ilegal yang merusak sumber air bersih. Menurutnya, warga sangat bergantung pada sungai, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas berkebun di Km 10, tempat ia biasa mengambil air untuk dikonsumsi.
Karena kondisi sungai yang tak lagi layak digunakan, OY kini terpaksa membeli air dari depot untuk kebutuhan minum dan memasak setiap kali berada di kebun.
“Air so (sudah) kotor begini sapa yang mau minum? Jangankan manusia, sapi saja itu sudah tidak mau minum air koala (sungai) ini, gara-gara tambang di atas (hulu), Km 18. Sekarang dorang (mereka), so mulai ba tambang (menambang) juga pake ekskavator di Km 16,” ucap OY dengan nada kesal saat ditemui Harianpost.id, Selasa, 11 November 2025 di kediamannya.
Merasa geram dan tak lagi bisa menunggu, OY bersama warga lainnya menyatakan siap turun langsung ke lokasi PETI dan menghentikan aktivitas tersebut apabila aparat penegak hukum tidak mengambil tindakan.
“Kalau Polisi tidak mo kase berhenti (berhentikan) itu tambang, nanti lia, torang (kami) sendiri yang mo datang kase berhenti (memberhentikan),” tegasnya.
Sementara itu, Kapolsek Popayato IPDA Muhammad Kasih Adlan saat dihubungi melalui telepon maupun pesan WhatsApp belum memberikan respons atas persoalan tersebut.
(GOL – 03)





































