POHUWATO (GOL) – Ketegangan antara masyarakat penambang lokal dengan pihak perusahaan di Kabupaten Pohuwato mencapai puncaknya. Lembaga Aksi Bela Rakyat (LABRAK) bersama puluhan penambang menyatakan sikap tegas dengan menduduki kantor pemerintahan sebagai bentuk protes atas dugaan pengrusakan fasilitas tambang rakyat oleh pihak perusahaan. Senin (11/05/2026).
Perwakilan LABRAK, Sonni Samoe, mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan respons atas tindakan perusahaan yang telah menghancurkan talang-talang emas dan camp milik penambang kecil. Menurutnya, masyarakat kini berada dalam kondisi terintimidasi dan merasa kehilangan perlindungan.
“Investasi yang masuk ke Pohuwato seharusnya hidup berdampingan dengan rakyat, bukan justru menggusur ruang hidup mereka. Kami meminta pemerintah daerah dan DPRD mengambil langkah konkret agar masyarakat tidak terus tertekan,” ujar Sonni. Ia juga menegaskan bahwa massa aksi berkomitmen untuk tetap menginap hingga pemerintah menunjukkan keberpihakan nyata kepada rakyat.
Merespons tuntutan tersebut, Wakil Ketua I DPRD Pohuwato, Hamdi Alamari, menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi konflik. Hamdi menegaskan bahwa kunjungan ini dilakukan secara mandiri sebagai bentuk komitmen moral kepada konstituen.
“Besok jam 10 pagi kami akan turun melihat langsung fakta di lapangan. Ini tanpa perjalanan dinas, murni keputusan kami untuk merespons aspirasi masyarakat,” tegas Hamdi.
DPRD Pohuwato, khususnya dari Fraksi Gerindra, menyatakan akan mengoordinasikan fraksi-fraksi lain untuk ikut mengawal persoalan ini. Hamdi menambahkan bahwa fungsi pertambangan seharusnya membawa kemaslahatan, bukan justru menjadi musibah bagi warga setempat.
“Apa yang menjadi hak masyarakat dan kewajiban perusahaan akan terus kami suarakan. Jika investasi justru menimbulkan musibah, maka DPRD akan berdiri tegak di barisan masyarakat,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu kehadiran Bupati Pohuwato dan jajaran Pemerintah Daerah untuk memberikan solusi yang berkeadilan. Harapannya, melalui kunjungan lapangan besok, akan tercipta ruang dialog persuasif yang dapat mengakhiri gesekan antara penambang lokal dan perusahaan demi kemaslahatan masyarakat Pohuwato.
(GOL – 03)





































