Penulis : Rizki Abas
Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas Syariah
SEMINGGU menjelang pelantikan rektor baru IAIN Sultan Amai Gorontalo, harapan tumbuh di tengah kelelahan panjang dunia akademik kampus.
Pergantian kepemimpinan selalu membawa optimisme baru, tetapi kali ini harapan itu lebih konkret: IAIN harus kembali menjadi kampus yang hidup, terbuka, dan diminati.
Selama beberapa tahun terakhir, kampus ini menghadapi tantangan serius menurunnya jumlah mahasiswa barudan melemahnya hubungan antara birokrasi kampus dengan mahasiswa.
Padahal, mahasiswa adalah denyut nadi perguruan tinggi. Tanpa kepercayaan dan keterlibatan mahasiswa, kampus hanyalah bangunan yang sunyi dari makna.
Rektor baru diharapkan tidak sekadar hadir sebagai pemimpin administratif, tetapi sebagai mitra mahasiswa dalam membangun budaya akademik yang dialogis, adil, dan berorientasi pada kemajuan bersama.
1. Kepemimpinan yang Mau Mendengar
Salah satu harapan terbesar terhadap rektor baru adalah
kemauan untuk mendengar.
Mahasiswa bukan musuh kebijakan, melainkan sumber aspirasi dan gagasan segar.
Kepemimpinan kampus akan bermakna jika dibangun di atas komunikasi dua arah — di mana suara mahasiswa tidak diabaikan, dan kritik tidak dianggap ancaman.
Kampus harus kembali menjadi ruang dialog, bukan ruang diam.
Dalam setiap kebijakan — mulai dari pembinaan akademik, peningkatan fasilitas, hingga penguatan kelembagaan — suara mahasiswa harus menjadi bagian dari pertimbangan.
Sebab, hanya dengan mendengarkan, kampus bisa memahami arah dan kebutuhan zamannya.
2. Rektor Sebagai Mitra Perubahan
Rektor baru juga diharapkan hadir sebagai mitra strategis mahasiswa* bukan otoritas yang berjarak.
Mahasiswa memiliki potensi besar dalam menciptakan inovasi, gerakan sosial, dan ide-ide perubahan kampus.
Jika potensi ini diarahkan dan didukung secara terbuka, IAIN Sultan Amai akan melahirkan generasi intelektual Islam yang tidak hanya berpikir kritis, tapi juga berdaya cipta dan berjiwa sosial tinggi.
Kemitraan antara mahasiswa dan rektor adalah simbol keseimbangan antara moral akademik dan semangat perubahan.
Keduanya saling membutuhkan untuk membangun iklim kampus yang sehat, produktif, dan berintegritas.
3. Meningkatkan Daya Tarik dan Jumlah Mahasiswa Baru
Penurunan jumlah mahasiswa baru dalam beberapa tahun terakhir menjadi sinyal bahwa IAIN harus segera berbenah.
Rektor baru memiliki tanggung jawab besar untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap kampus ini.
Rektor baru datang dengan beban sejarah dan harapan besar. Kampus ini menunggu pemimpin yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi berani memulainya dari cara mendengarkan, memahami, dan bekerja bersama mahasiswa.
Harapan kami dewan eksekutif mahasiswa fakultas syari’ah sederhana:
jadilah rektor yang mau berjalan bersama, bukan berdiri di atas.
Bangunlah IAIN Sultan Amai bukan dari ruang rapat tertutup, tapi dari dialog terbuka dengan para mahasiswa yang menjadi tulang punggung kampus.
Jika kepemimpinan baru mampu menumbuhkan kepercayaan dan partisipasi bersama, maka jumlah mahasiswa akan meningkat bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena IAIN kembali dipercaya sebagai rumah ilmu, moral, dan masa depan. (*”)





































