Oleh: Abd. Rajak Dunda
(Mahasiswa Universitas Pohuwato)
DALAM sejarah pergerakan bangsa, mahasiswa selalu berada di garda terdepan perubahan. Dari masa pergerakan kemerdekaan, reformasi 1998, hingga berbagai aksi solidaritas sosial, suara mahasiswa sering kali menjadi representasi suara rakyat yang tak terdengar. Namun hari ini, angin perubahan itu terasa berbeda. Mahasiswa kini dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks: krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap para aktivis.
Bukan rahasia lagi bahwa sebagian masyarakat mulai mempertanyakan niat dan integritas para aktivis kampus. Mereka tak lagi serta-merta percaya bahwa setiap aksi adalah murni suara nurani. Tuduhan pragmatisme, kepentingan politik sesaat, hingga dugaan aktivisme pesanan kini menghantui gerakan mahasiswa. Ini menjadi pukulan telak, karena di saat masyarakat seharusnya bersatu dengan mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan, yang terjadi justru jurang ketidakpercayaan yang semakin lebar.
Dua Sisi Mata Uang: Mahasiswa dan Kepentingan
Kritik terhadap aktivis tak datang tanpa sebab. Kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa ada segelintir oknum mahasiswa yang menyalahgunakan atribut “aktivis” demi kepentingan pribadi atau kelompok. Entah itu berujung pada kompromi dengan elit, terlibat dalam transaksional politik, atau sekadar mencari panggung popularitas. Fenomena ini mencederai esensi perjuangan mahasiswa itu sendiri, dan pada akhirnya menurunkan kredibilitas gerakan secara keseluruhan.
Namun, menyamaratakan seluruh mahasiswa sebagai aktor kepentingan juga merupakan bentuk ketidakadilan lain. Masih banyak mahasiswa yang berjuang dengan tulus, dengan risiko yang besar, namun minim sorotan dan apresiasi. Mereka yang bergerak di desa-desa, yang mengadvokasi isu lingkungan, buruh, pendidikan, dan hak-hak minoritas, tak pernah masuk headline media. Inilah ironi terbesar kita hari ini.
Tantangan Mahasiswa: Membangun Ulang Kepercayaan
Di tengah situasi ini, tantangan terbesar mahasiswa bukan sekadar merancang aksi atau menyusun tuntutan, melainkan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai perjuangan itu sendiri.
Untuk itu, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Transparansi Gerakan
Mahasiswa perlu membuka ruang komunikasi yang sehat kepada publik. Tujuan, latar belakang aksi, dan sikap organisasi harus disampaikan secara terbuka. Gerakan yang tertutup hanya akan menimbulkan kecurigaan baru.
2. Konsistensi dan Etika
Gerakan mahasiswa harus bebas dari kepentingan pragmatis. Konsistensi antara suara yang dibawa dan tindakan di lapangan adalah hal yang tidak bisa ditawar.
3. Dekat dengan Akar Rumput
Mahasiswa perlu lebih sering turun dan menyatu dengan persoalan masyarakat, bukan hanya berbicara dari menara gading kampus. Kepekaan sosial harus diasah agar suara mahasiswa benar-benar menjadi refleksi dari rakyat.
4. Evaluasi Internal
Organisasi mahasiswa perlu berani melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Bila perlu, lakukan pembenahan struktur, nilai, dan sistem kaderisasi agar tak mudah terkooptasi.
Menjadi Mahasiswa yang Bukan Sekadar Aktivis
Menjadi aktivis bukan sekadar tentang turun ke jalan atau membuat narasi besar. Aktivisme sejati adalah tentang keberpihakan yang jujur, kerja nyata, dan keberanian untuk tidak populer. Di tengah krisis kepercayaan ini, mahasiswa harus membuktikan bahwa mereka bukan alat kepentingan siapa pun, melainkan suara nurani bangsa yang tak boleh dibungkam oleh zaman.
Masyarakat mungkin sedang kecewa, tapi kepercayaan bisa dibangun kembali. Asalkan mahasiswa mau kembali menata niat, memperkuat idealisme, dan menjadikan perjuangan sebagai jalan hidup—bukan batu loncatan semata.





































